Loading...

Pages

Senin, 21 Januari 2013


“Dan bagi tiap-tiap umat ada kiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Di mana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu". (QS. Al Baqarah:148).


Fastabiqul khairot

(berlomba-lomba dalam kebaikan)
Oleh Darnisah
Guna memotivasi diri sendiri dan orang lain, sering dengan kata fastabiqul khairat. Dengan harapan kita segera bangkit dan mengejar apa yang diharapkan. Berlomba-lomba dalam kebaikan diri dan orang lain baik dunia maupun akhirat. Kedua hal ini sebenarnya saling berkaitan sebab, bila kita beranggapan bahwa  dunia merupakan lahan  atau  ladangnya akhirat maka  sangat cukup beralasan memotivasi diri untuk melakukan kebaikan-kebaikan dunia dalam rangka fastabiqul khairot dan memetik hasilnya di akhirat kelak.
Dalam surat al Baqarah ayat 148 Allah menjelaskan “ Dan bagi tiap-tiap ummat ada qiblatnya (sendiri) yang ia menghadap kepadanya. Maka  berlomba-lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan. Dimana saja kamu berada pasti Allah akan mengumpulkan kamu sekalian (pada hari kiamat). Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu.”
Dalam rangka berbuat kebaikan ada Lima hal yang menjadi acuan dalam berfastabiqul khairot,
1.       Niat yang ikhlas karena Allah
Dalam sebuah hadits shohih yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim tentang niat dalam bab niat, bahwa Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya. Sekecil apa pun amal yang akan dilakukan harus dimulai dengan niat  yang ikhlas hanya karena Allah, sebab menjadi penentu diterima atau tidaknya amal yang dilakukan adalah bersebab ikhlasnya niat.
2.       Bekerja dan beramal dalam koridor syar’i
Kadang terlintas dalam benak kita apakah amal yang kita lakukan sesuai dengan syariat? Dalam sebuah hadits dikatakan bahwa jika kita mengada-adakan sesuatu amal yang tidak dicontohkan oleh Nabiyullah Muhammad saw, fahua Raddu (ia ditolak).  Maka kekahawatiran pun muncul, keharusan nyunnah menari-nari di atas kepala kita. Mestikah kita mengendarai kuda atau onta di kota Medan? Dimana kita harus mendapatkannya? Pertanyaan-pertanyaan tersebut muncul menghantui dengan satu kekhawatiran apakah dengan naik angkot, mobil atau motor membuat kita tidak nyunnah. Sekali lagi, bahwa mengada-ada dalam masalah ibadah lah yang dikategorikan bid’ah, sementara urusan dunia adalah urusan pribadi dalam menyikapinya. Namun tetap dalam koridor syar’i.
Sesuatu yang diperbolehkan dan tidak sudah jelas Allah dan Rasul jelaskan, bahwa mencuri itu dosa, berzina itu dosa, mengumpat, mencaci maki juga dosa…..telah dijelaskan gamblang. Aturan main seperti inilah yang penulis sebut dalam koridor syar’i.
3.       Meyakini setiap amal akan mendapat ganjaran pahala dari Allah
Setiap niat baik itu dihitung satu pahala tapi satu niat buruk belum dihitung satu dosa. Setelah niat berubah menjadi amal maka amal baik akan dibalas pahala sebaliknya amal buruk diganjar dengan dosa setelah niat berubah menjadi amal. Pahala yang Allah janjikan juga dapat disesuaikan dengan waktu dan tempat pelaksanaan seperti amal yang dilaksanakan pada bulan Ramadhan maka Allah akan gandakan berlipat, begitu juga amal yang dilaksanakan di tanah suci tatkala kita melaksanakan ibadah haji.
Jadi, jangan  pernah takut walau hanya berniat, apalagi segera melaksanakan amal yang telah diniatkan, seperti kata Bimbo dalam syair lagunya…….berbuat baik janganlah ditunda-tunda……….
4.       Seanantiasa meningkatkan amal dan ibadah
Setiap siswa yang berada di kelas sudah pasti ingin naik ke tingkat di atasnya. Bahkan program ekselarasi cukup menantang anak berperestasi sehingga dapat menjadi unggul setingkat di atas kemampuan rata-rata siswa di sekolah tersebut. Mengapa kita tidak menjadikan hal ini motivasi dalam meningkatkan amal? Perasaan cukup hanya sholat yang wajib saja tanpa berhasrat merambah ke sholat sunnah dan amalan lain seputar sholat. Rasanya tidak merupakan suatu peningkatan. Mempertahankan amal baik dan meningkatkannya merupakan salah satu ciri berfastabiqul khairot.
5.       Jangan terfokus kepada hasil melainkan pada usaha
Allah jelaskan dalam surat Ali Imran bahwa tidak dijadikan atau diciptakan sesuatu dengan sia-sia atau tanpa makna. Robbana ma khalaqta hadza bathila…(ali Imran : 191). Kita selalu beranggapan bahwa orientasi kerja adalah hasil sehingga apabila tidak sesuai target yang diharapkan kita segera berputus asa. Padahal Allah sangat melihat usaha. Bahkan orang yang telah berdarah dan syahid Allah katakan kekal di sisi Nya dan dimasukkan ke dalam Jannah. Bukankah tujuan kita adalah mendapatkan keridhoan Allah….so, mulailah kita memperbaiki upaya kita dan bukan beorientasi hasil. Sebab bila hanya berorintasi pada hasil maka kita dapat menghalalkan segala cara demi kepentingan kita. Bekerjalah kamu maka Allah dan Rasul melihat usahamu…… dalam sebuah ayat al Qur’an
Saudara-saudaraku seiman dan seaqidah, Fastabiqul khairat yang sering kita lafaskan dan dengarkan, jangan sekedar dijadikan lips serve, atau pemoles bibir.
Ini sebuah kisah tentang seorang lelaki surga yang tak mau menunggu, ia menjadi yang terdepan dalam kebaikan. Dalam suatu kesempatan, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wasallam memaparkan profil penghuni surga tanpa azab dan hisab mulai dari para nabi hingga Nabi Muhammad. Para sahabat sudah mulai kasak-kusuk, menduga-duga, gusar, bagaimanakah gerangan rupa istimewa tersebut?
Ketika itu Nabi bertanya kepada para sahabatnya, “Apa yang kalian bicarakan?”, maka setelah mereka memberitahukan, Sang Nabi pun bersabda, “Mereka adalah orang-orang yang tidak melakukan ruqyah, tidak meramal yang buruk-buruk dan kepada Rabbnya mereka bertawakkal".
Tiba-tiba saja, seorang lelaki bangkit dan berkata, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka”. Setelah itu, ada lagi lelaki yang bangkit, untuk kedua kalinya dengan permintaan yang sama, “Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikan aku termasuk golongan mereka”, Rasulullah menjawab, “Engkau sudah di dahului Ukasyah”.
Yah, pemuda yang pertama kali bangkit adalah Ukasyah bin Mihsan. Ukasyah tidak perlu menunggu untuk menjadi yang kedua. Karena keberaniannya pada kesempatan yang pertama, permohonannya di ‘amini’ oleh Rasulullah. Seperti api yang menyala-nyala, seperti itulah semangat Ukasyah yang hadir di awal, bukan di akhir. Inilah sahabat Rasulullah, mereka memiliki satu budaya yang sudah lama kita tinggalkan. Budaya fastabiqul khairat, berlomba-lomba dalam kebaikan.
Atau para shahabiyah ketika menerima perintah hijab,
“Mereka itu bergegas segera dalam meraih kebaikan, Dan merekalah orang-orang yang terdahulu memperolehnya," (Al. Mu’minun : 61).
Ketika turun ayat tentang hijab, tanpa membuang tempo, para shahabiyah langsung mengambil kain-kain mereka dan melilitkan ke seluruh tubuhnya. Para shahabiyah yang berada di pasar-pasar lantas tidak langsung pulang ke rumah. Mereka memilih untuk bersembunyi di balik batu-batu besar, menunggu malam yang sepi barulah mereka pulang ke rumah. Lagi-lagi Ini adalah bukti, bahwa sahabat Rasulullah adalah orang-orang yang memiliki budaya fastabiqul khairat, budaya tak mau menunggu dan selalu kompetisi dalam ketaatan.
Wallahualam bishowwab.



0 komentar:

Poskan Komentar

thanks for coming

 
Copyright (c) 2010 RA BUNAYYA II. Design by Wordpress Themes.

Themes Lovers, Download Blogger Templates And Blogger Templates.